MENJADI GURU PROFESIONAL DI ERA KOMPLEKSITAS DAN CHAOS


Oleh : Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, MPA.
Guru Besar UPI & Direktur Pascasarjana UNINUS


-[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

Dunia semakin lama semakin berkembang. Berbagai tuntutan dan permasalahan manusia yang semakin kompleks. Dengan kompleksitas persoalan yang kita hadapi sehingga mempersulit bagi kita untuk melangkah, kita harus memulai dari mana untuk membenahinya?

Kita dapat memahami bahwa setiap system yang ada memiliki identitas yang berbeda yang terus menerus berproduksi dalam komunikasinya dan ia tergantung dari apa yang ia anggap bermakna dan mana yang tidak bermakna. Jika sebuah system gagal memelihara identitas tersebut, maka ia tak lagi menjadi system, dan kembali  menjadi lingkungan dimana ia berada. Luhmann menyebut proses ini sebagai proses reproduksi dari elemen suatu lingkungan yang telah demikian kompleks. Menurut Luhmann, system sosial mereproduksi dirinya sendiri secara tertutup, dimana mereka menggunakan dan bergantung pada sumber yang ada di lingkungan mereka.

            Luhmann mencoba untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas terjadi dalam sistem sosial, dimana sistem yang kompleks tidak dapat dilihat hanya dari sistem dan lingkungannya, tetapi sebagai suatu keseluruhan. Dari kondisi ini system bisa merupakan kondisi yang tertutup dan sekaligus juga terbuka terhadap lingkungan. Dengan kemampuan system untuk mengorganisir diri sendiri, maka system berkembang lewat perangkat-perangkat yang dimilikinya. Lingkungan dimana system berada menghasilkan interaksi tertutup dan terbuka bagi system.

Dengan penggambaran seperti ini maka kita menemukan suatu dunia yang sangat rumit, mencakup kinerja system yang tak terbayangkan sebelumnya. Sistem yang tadinya dibayangkan sebagai suatu totalitas yang permanent, kini bisa dengan mudah berubah-ubah sesuai dengan hakikat atau perilaku dari system yang ada ini. Jadi system tak mudah ditebak dan mereka memiliki caranya yang khas untuk di satu sisi berkembang, dan di sisi lain juga statis.

Gagasan Luhmann yang mendasarkan pada teori-teori sains muktahir cukup membingungkan dan menarik untuk melihat seberapa jauh ia bisa diaplikasikan untuk menjelaskan organisasi sosial masyarakat dan individu yang terlibat di dalamnya. Sejumlah karakter utama dari system ala Luhmann yang penting dicatat seperti system yang tak terprediksi, pengorganisasian kompleksitas dll, adalah konsep-konsep yang perlu lebih diperdalam untuk memahami situasi sebuah system sosial, namun di sisi lain ia adalah proses dinamis, dimana keterbukaan dan ketertutupan sebagai system terjadi pada saat yang bersamaan.

Berbicara soal guru, untuk menghadapi era yang kian kompleks, perlu membekali diri sesuai dengan kemampuan yang diharapkan dalam tugasnya. Guru yang baik harus siap dan mampu menghadapi berbagai krisis di era kompleksitas. Guru terbaik mempunyai kemampuan berpikir integratif, berani mengambil resiko dan bahaya, menghargai gagasan, berkomunikasi dan hubungan dengan peserta didik dengan lebih intuitif dan empatik, mampu mengatasi perubahan, menetapkan arah dengan mengembangkan suatu visi terhadap masa depan, mampu mensinergikan peserta didik dengan mengkomunikasikan dan mengilhami mereka untuk mengatasi rintangan-rintangan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Guna menghadapi perubahan yang pesat dengan baik, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki kompetensi profesional. Dalam hal ini, guru harus memiliki serangkaian kompetensi yang pokok. Kompetensi profesional guru merupakan seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.

Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru agar bisa profesional, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional, (4) kompetensi sosial.

Di samping keempat kompetensi tersebut, dalam proses pembelajaran, guru harus dapat menempatkan diri dan menciptakan suasana yang kondusif, karena fungsi guru di sekolah sebagai bapak kedua yang bertangung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Ki Hajar Dewantara telah menggariskan pentingnya peranan guru dalam proses pembelajaran dengan ungkapan:

1. Ing ngarsa sung tulada berarti di depan memberi teladan. Menekankan pentingnya modeling atau keteladanan yang merupakan cara yang paling ampuh dalam mengubah perilaku inovasi seseorang;

2.    Ing madya mangun karsa berarti di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa. Asas ini memperkuat peran dan fungsi guru sebagai mitra setara (di tengah), serta sebagai fasilitator (menciptakan peluang);

3. Tut wuru handayani, artinya dari belakang memberikan dorongan dan arahan. Hal ini mempunyai makna yang kuat tentang peran dan fungsi guru.


Artikel Lain :